Sony Pictures mulai mengembangkan film terbaru dari waralaba Charlie’s Angels, menandai kemungkinan kembalinya trio agen perempuan legendaris ke layar lebar.
Proyek tersebut masih berada pada tahap awal, namun studio sudah menunjuk penulis skenario Pete Chiarelli untuk mengerjakan naskah.
Kabar pengembangan film baru ini menguatkan indikasi bahwa Sony ingin menghidupkan lagi properti hiburan klasik yang telah menjadi bagian penting budaya pop selama hampir lima dekade.
Jika proyek berjalan sesuai rencana, penonton berpeluang kembali mendengar sapaan ikonik para agen kepada bos misterius mereka, yakni Selamat pagi, Charlie.
Chiarelli dipilih karena rekam jejaknya dalam menulis film komersial populer. Ia sebelumnya terlibat dalam penulisan Crazy Rich Asians, Now You See Me 2, The Proposal, serta film animasi Sony Pictures Animation terbaru berjudul Goat yang baru tayang di bioskop. Penunjukan ini sekaligus menandakan studio ingin memberi pendekatan segar, tetapi tetap mudah diterima penonton global.
Waralaba Charlie’s Angels pertama kali muncul sebagai serial televisi pada 1976. Ceritanya berfokus pada tiga perempuan yang bekerja sebagai detektif di agensi swasta Townsend.
Serial tersebut segera menarik perhatian publik dan menjadi fenomena pop culture pada masanya. Kate Jackson, Farrah Fawcett, dan Jaclyn Smith menjadi wajah awal trio agen tersebut, sementara John Forsythe mengisi suara Charlie Townsend, sosok bos yang hanya berkomunikasi lewat telepon.
Dalam serial itu, Charlie selalu memberi instruksi dari jarak jauh, sementara para agen menjalankan misi lapangan. Premis sederhana ini justru menjadi daya tarik kuat karena menampilkan karakter perempuan sebagai pusat aksi kriminal investigatif, sesuatu yang cukup jarang pada televisi era 1970-an.
Popularitas serial televisi itu kemudian berkembang menjadi franchise film. Pada tahun 2000, Drew Barrymore, Cameron Diaz, dan Lucy Liu memerankan trio baru dalam versi layar lebar yang disutradarai McG.
Film tersebut sukses secara komersial dan meraih pendapatan global sekitar 264 juta dolar AS atau sekitar Rp4,2 triliun (kurs sekitar Rp16.000 per dolar AS). Keberhasilan tersebut melahirkan sekuel Charlie’s Angels: Full Throttle pada 2003, yang semakin mengukuhkan statusnya sebagai tontonan aksi ringan populer.
Namun, perjalanan waralaba ini tidak selalu mulus. Upaya reboot serial televisi pada 2011 dihentikan lebih cepat karena rating rendah. Dari total 13 episode yang dipesan, hanya delapan yang sempat tayang di jaringan ABC sebelum akhirnya dibatalkan.
Sony kemudian mencoba lagi lewat film versi 2019 yang disutradarai Elizabeth Banks dan dibintangi Kristen Stewart, Naomi Scott, serta Ella Balinska. Film itu mencoba menggabungkan elemen serial klasik dan versi 2000-an, termasuk konsep jaringan Bosley yang lebih luas.
Meski mendapat perhatian publik, performa box office tidak memenuhi harapan dan hanya meraup sekitar 73 juta dolar AS secara global, atau sekitar Rp1,1 triliun.
Meski begitu, nilai historis Charlie’s Angels masih dianggap kuat. Menjelang peringatan 50 tahun serial aslinya, Sony menilai potensi komersialnya belum habis. Popularitasnya sebagai tontonan kultus serta konsep trio agen perempuan dinilai masih relevan dengan pasar modern yang menyukai karakter aksi perempuan kuat.
Keputusan memulai pengembangan baru juga menunjukkan tren industri film Hollywood yang kembali memanfaatkan katalog lama dengan pendekatan modern. Studio film besar kini lebih berhati-hati memilih proyek, sehingga waralaba yang sudah dikenal publik sering menjadi pilihan karena memiliki basis penggemar yang jelas.
Sony belum memberikan pernyataan resmi terkait detail cerita, sutradara, maupun pemeran. Namun pengembangan awal naskah menandakan proyek sudah memasuki tahap serius sebelum masuk proses produksi.
Jika terealisasi, film baru ini berpotensi menjadi babak terbaru bagi salah satu waralaba aksi perempuan paling terkenal di dunia, sekaligus memperkenalkan kembali generasi ‘malaikat’ baru kepada penonton masa kini.