Episode 5 A Knight of the Seven Kingdoms bukan hanya menampilkan “trial of seven” yang brutal untuk membuktikan ketidakbersalahan Ser Duncan “Dunk” the Tall (Peter Claffey).
Episode ini juga menghadirkan kilas balik panjang ke masa lalunya saat masih menjadi anak jalanan di Flea Bottom — dan masa lalu itu sekaligus berisi pelajaran sejarah Westeros.
Setelah mengais-ngais sisa medan perang bersama temannya Rafe (Chloe Lea dari Dune: Prophecy), Dunk kecil (Bamber Todd) berkata, “Perangnya sudah selesai. Naga Hitam sudah mati.” Tapi perang apa yang ia maksud, dan Targaryen mana yang menyandang gelar Naga Hitam? Mari kita bahas.
A Knight of the Seven Kingdoms menyinggung Pemberontakan Blackfyre
Perang yang disebut Dunk dikenal sebagai Pemberontakan Blackfyre, konflik besar di seluruh Seven Kingdoms yang terjadi pada tahun 196 AC (After Conquest / Setelah Penaklukan Aegon), 13 tahun sebelum turnamen Ashford Meadow.
Mirip dengan Dance of the Dragons yang terlihat di House of the Dragon, Pemberontakan Blackfyre juga merupakan perang saudara di dalam keluarga Targaryen.
Di satu sisi ada Raja Daeron II Targaryen, yang masih menduduki Iron Throne pada masa A Knight of the Seven Kingdoms. Lawannya adalah saudara tirinya, Daemon I Blackfyre, seorang anak haram Targaryen yang telah dilegalkan.
Baik Daeron II maupun Daemon merupakan putra Aegon IV Targaryen, cucu dari Rhaenyra dan Daemon Targaryen (House of the Dragon diperankan Emma D’Arcy dan Matt Smith). Hubungan Pangeran Daeron dengan ayahnya tidak harmonis: Aegon IV ingin menyerang Dorne tanpa alasan jelas, sementara Daeron II — yang menikah dengan Putri Dornish Myriah Martell — memilih bersikap hati-hati.
Pada masa itu, Aegon IV memperkeruh keadaan dengan menyebarkan rumor bahwa Daeron II adalah anak haram dan ia akan memilih pewaris baru. Ia sangat memihak salah satu anak haramnya, Daemon Waters, bahkan menghadiahkan pedang legendaris Aegon the Conqueror, Blackfyre, kepadanya setelah memenangkan turnamen pada usia 12 tahun. Sejak saat itu, Daemon memakai nama Blackfyre.
Aegon IV memang tidak pernah menunjuk pewaris baru, tetapi menjelang wafatnya pada 184 AC ia melegalkan seluruh anak haramnya — keputusan yang menjadi pemicu kekacauan besar di keluarga Targaryen. Dua belas tahun kemudian, pada 196 AC, Daemon melancarkan pemberontakan terbuka dan berusaha merebut Iron Throne. Lambangnya adalah naga hitam di latar merah, kebalikan dari lambang Targaryen, sehingga ia dikenal sebagai “Naga Hitam”.
Pada akhirnya Daeron II menang berkat kemenangan menentukan dalam Pertempuran Redgrass Field, yang sempat disebut Egg (Dexter Sol Ansell) lewat lagu pada episode 3. Daemon dan dua putra kembarnya tewas dalam pertempuran, namun mereka bukanlah yang terakhir dari para penuntut takhta Blackfyre. Sebagian melarikan diri dari Westeros ke Free Cities, lalu di kemudian hari kembali mencoba merebut Iron Throne.
Peringatan spoiler: upaya itu tidak benar-benar berhasil — tetapi itu cerita untuk waktu lain (dan mungkin musim lain dari A Knight of the Seven Kingdoms).