Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan dirinya tidak senang dengan sikap Iran setelah perundingan terbaru mengenai program nuklir Teheran berakhir tanpa kesepakatan di Jenewa.
Meski demikian, Trump menegaskan belum mengambil keputusan apakah akan melancarkan serangan militer terhadap negara tersebut, di tengah meningkatnya ketegangan di kawasan Timur Tengah.
“Saya tidak senang dengan fakta bahwa mereka tidak bersedia memberikan kepada kita apa yang memang harus kita dapatkan. Jadi saya tidak puas,” ujar Trump kepada wartawan, merujuk pada hasil negosiasi yang berakhir Kamis lalu.
Ia juga menekankan bahwa opsi militer bukan pilihan utama, namun tetap terbuka. “Saya tidak ingin menggunakan kekuatan militer terhadap Iran, tetapi terkadang Anda memang harus melakukannya,” katanya dilansir Mashable Indonesia dari BBC.
Pernyataan itu langsung memicu kekhawatiran global terkait potensi konflik bersenjata baru. Sejumlah negara bergerak cepat dengan mengeluarkan imbauan perjalanan dan evakuasi bagi warganya di kawasan.
Amerika Serikat mendesak warganya yang berada di Iran untuk segera meninggalkan negara tersebut. Kedutaan Besar AS di Israel bahkan mengizinkan sebagian staf non-darurat dan keluarga mereka untuk pergi selagi penerbangan komersial masih tersedia.
Pemerintah Inggris menarik sementara sebagian staf kedutaannya di Teheran dan memperbarui panduan perjalanan dengan menyarankan agar menghindari seluruh perjalanan yang tidak mendesak ke Israel.
China, India, dan Kanada juga meminta warga mereka segera meninggalkan Iran. Jerman mendesak warganya untuk tidak bepergian ke Israel, sementara Prancis kembali menegaskan peringatan serupa.
Ketegangan meningkat setelah Washington memperkuat kehadiran militernya di Timur Tengah dalam beberapa pekan terakhir. Trump telah memerintahkan pengerahan besar-besaran pasukan, termasuk dua kapal induk, kapal perang pendukung, jet tempur, dan pesawat pengisian bahan bakar di udara. Langkah tersebut disebut sebagai pengerahan terbesar sejak invasi pimpinan AS ke Irak pada 2003.
Di sisi lain, Iran bersikeras bahwa program nuklirnya bertujuan damai dan untuk kepentingan sipil. Namun, negara-negara Barat menuding Teheran telah memperkaya uranium hingga mendekati tingkat yang dapat digunakan untuk senjata nuklir.
Dalam pernyataan terbarunya, Trump kembali menegaskan garis keras Washington. “Saya katakan tidak ada pengayaan… Saya pikir itu tidak beradab,” ucapnya.
Perundingan di Jenewa dimediasi oleh Menteri Luar Negeri Oman, Badr Albusaidi. Ia mengungkapkan bahwa kedua pihak sebenarnya telah mencapai kemajuan signifikan, meski belum membuahkan kesepakatan final.
Menurutnya, Teheran telah menyetujui untuk tidak menimbun uranium yang telah diperkaya. “Jika Anda tidak bisa menimbun material yang sudah diperkaya, maka tidak ada cara bagi Anda untuk benar-benar membuat bom,” kata Albusaidi dalam wawancara dengan CBS News.
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, yang memimpin delegasi negaranya, juga mengakui adanya kemajuan yang baik. Namun ia menegaskan bahwa masih terdapat sejumlah perbedaan mendasar yang belum terselesaikan.
Ia memastikan pembicaraan lanjutan akan digelar dalam waktu kurang dari sepekan, dengan diskusi tingkat teknis dijadwalkan berlangsung di Wina.
Sementara itu, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio dijadwalkan bertolak ke Israel untuk bertemu Perdana Menteri Benjamin Netanyahu dan membahas berbagai prioritas regional, termasuk isu Iran.
Rubio juga mengumumkan bahwa Washington telah menetapkan Iran sebagai negara sponsor penahanan yang salah, sebuah status yang memungkinkan AS menjatuhkan sanksi tambahan terhadap negara yang dianggap menahan warga Amerika secara tidak adil.
“Kami menegaskan kembali seruan kami agar warga Amerika yang saat ini berada di Iran segera meninggalkan negara itu,” tegas Rubio.
Wakil Presiden JD Vance menyebut opsi serangan masih dalam pertimbangan, namun memastikan AS tidak ingin terlibat dalam perang panjang.
“Saya pikir kita semua lebih memilih opsi diplomatik. Namun itu sangat tergantung pada apa yang dilakukan dan dikatakan oleh pihak Iran,” ujarnya.
Situasi kian rumit setelah Badan Energi Atom Internasional atau International Atomic Energy Agency menyatakan belum mendapatkan akses kembali ke sejumlah fasilitas pengayaan uranium Iran sejak serangan udara AS pada Juni lalu.
Dalam laporan rahasia kepada negara-negara anggotanya, badan tersebut menegaskan pentingnya inspeksi segera untuk memastikan transparansi program nuklir Iran.
Trump sebelumnya menyatakan dunia akan mengetahui dalam 10 hari apakah kesepakatan dapat dicapai atau tindakan militer akan diambil. “Kita harus membuat kesepakatan yang bermakna, jika tidak hal-hal buruk akan terjadi,” katanya.
Dengan negosiasi yang masih menggantung dan pengerahan militer yang terus meningkat, ketegangan AS-Iran menjadi sorotan utama dunia. Upaya diplomasi masih terbuka, tetapi risiko konflik bersenjata tetap membayangi apabila tidak ada terobosan konkret dalam waktu dekat.